Kata Mutiara

“Akal sehat adalah kumpulan prasangka yang didapat sejak usia 18 tahun.” “Hanya sedikit yang melihat dengan matanya sendiri dan merasakan dengan batinnya sendiri.” (Einstein)

Dokumentasi

Sample Title
Sample Title
Sample Title
Sample Title
Sample Title

Tautan Eksternal

Who's Online

Kami punya 63 tamu online

Designed by:
SiteGround web hosting Joomla Templates
Home Profil SMA 1 Kendal Sarana dan Prasarana
Laksda TNI Ir. Bambang Nariyono, MM. PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Administrator   
Jumat, 23 September 2016 06:55

Sahabat Itu Laksana Bintang

Saya lahir di Semarang pada tanggal 17 Januari 1961 dan kini saya dan      keluarga tinggal di Jakarta. Istri saya bernama Milasari Listiawaty Dewi (lahir 7 Agustus 1971) dan kami dikaruniai empat orang anak, yaitu Prabadika Radifan Harisuddin (lahir tanggal 31 Maret 1993), Prabadika Hadyan Romadhona (lahir tanggal 9 Pebruari 1995), Prabadika Reyhan Fernaldy (lahir tanggal 20 Desember 1997) dan Prabadika Ihsan Rahadi  (lahir tanggal 23 Oktober 2002).

 

Setelah lulus dari SMAN 1 Kendal saya melanjutkan pendidikan di AKABRI. Di samping meniti jenjang karir kemiliteran, pada tahun 2012 saya berhasil menyelesaikan jenjang akademik S2 Magister Manajemen di Unkris Jakarta. Hingga saat ini saya berdinas di TNI AL.

 

Sahabat itu laksana bintang. Walau jauh dia tetap bercahaya, meski kadang menghilang dia tetap ada, tidak untuk dimiliki tetapi tak bisa dilupakan. Begitupun sahabat alumni SMAN 1 Kendal yang tergabung dalam paguyuban IKA’79, tetap terjaga ikatan pertemanan yang tak terlupakan walaupun saling berjauhan.

Saya ingin berbagi pesan tentang filosofi hidup: “I can’t change the direction of the wind, but I can adjust my sails to always reach my destination” (Aku tidak dapat mengubah arah angin, tapi aku bisa mengarahkan kapalku agar selalu mencapai tujuanku).

Sebagai seorang yang mengabdikan diri di laut, saya terinspirasi oleh ikan lumba-lumba dan saya memetik pelajarannya tentang bagaimana mestinya kita membangun dan menjaga silaturrahmi.

Lumba-lumba adalah hewan laut yang sangat inspiratif, memiliki berbagai kelebihan fisik sebagai bukti daya adaptif mereka terhadap kehidupan laut yang sebenarnya bukan habitat asli mereka. Lumba-lumba adalah mamalia, sebentuk mahluk yang mirip manusia dan aslinya hidup di daratan. Bentang evolusi kehidupan membawa mereka untuk hidup di lautan dan akhirnya melahirkan berbagai bentuk adaptasi yang canggih: sonar sistem untuk navigasi di laut, bentuk tubuh dan kulit yang sangat hidrodinamis dan pengendalian terpisah dari separuh mata dan otak.

Dibalik keunggulan fisiknya, lumba-lumba juga memiliki kepribadian yang sangat unik, meski hewan mereka adalah mahluk sosial yang mengenal bahasa dan menjadi simbol bagi suatu sosok yang menampilkan : Kebersamaan, Setia kawan dan Periang....


Sebagai mahluk social, lumba-lumba juga hidup tidak pernah sendiri, namun selalu dalam kelompok bersama-sama dengan rekan-rekannya yang mengedepankan KEBERSAMAAN dan kerjasama antar individu untuk bertahan menghadapi kerasnya kehidupan di laut, bertahan dari bahaya serangan binatang laut lainnya serta untuk menghadapi kehidupan ke depan yang lebih baik.

Dalam berbagai kebudayaan bahari dunia, lumba-lumba selalu dianggap mewakili malaikat penolong dalam setiap kemalangan dilaut, sikap SETIA KAWAN dengan menonjolnya sikap suka menolong kepada siapapun yang membutuhkan pertolongan, menjadikan lumba-lumba dikenal ada kedekatan emosi dengan para pelaut dan dijadikan simbol bagi persahabatan dan kesetia-kawanan.

Kelebihan lumba lumba lainnya adalah, hewan ini dikenal sebagai mahluk yang PERIANG selalu tertawa ceria bersama-sama dengan teman-temannya, dimanapun gerakan mereka. Sikap hidup yang selalu riang dan tegas dalam menghadapi resiko mengarungi lautan dengan penuh keberanian (courage), namun tetap penuh dengan kewaspadaan (alert). Sikap inilah yang disebut sebagai sikap yang akan mampu membuka kehidupan menuju kemajuan peradaban.

“SEMANGAT KEBERSAMAAN, SETIA KAWAN dan SELALU RIANG dalam mengawal tali silaturahmi, akan membawa kita menuju persahabatan yang hakiki”. – (Bambang Nariyono).

Terakhir Diperbaharui pada Jumat, 23 September 2016 07:53