Dokumentasi

Sample Title
Sample Title
Sample Title
Sample Title
Sample Title

Tautan Eksternal

Who's Online

Kami punya 53 tamu online

Designed by:
SiteGround web hosting Joomla Templates
Home Home
Djumarno bin Sukedji PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Administrator   
Rabu, 28 September 2016 07:50

Saya terlahir di Kendal tanggal 7 Juni 1958 sebagai anak sulung dari sembilan bersaudara. Kini hidup berkeluarga dengan seorang istri bernama Sri Maryati dan tiga orang anak (1 laki-laki dan 2 perempuan), yaitu Ari Yoga Nugroho (lahir tanggal 8 Mei 1991), Anita Dwi P. (lahir tanggal 15 September 1997) dan Inez Dianingrum Y. (lahir tanggal 17 Juni 2003). Alhamdulillah sampai tulisan ini diketik keluarga masih utuh lengkap. Saya seorang wiraswasta tinggal di Boja dan hobi bersepeda.

Lulus SD tahun 1971 kalau nggak salah, jika melihat tahun lulus berarti umurku waktu itu sudah 13 tahun, jika anak sekarang sudah kelas 3 SMP. Maklum waktu masuk SD yang menjadi tolok ukur bisa masuk SD pada jaman itu tangan kanan bisa menjangkau kuping kiri apa tidak (dengan cara dilingkarkan ke atas kepala). Jadi saya masuk SD duduk di kelas 1 sudah umur 8 tahun. Lulus SMP tahun 1974, oleh orang tua saya dimasukkan ke Sekolah Guru. Karena tidak suka jadi guru, aku ngambek dan sekolah tidak kujalani, akhirnya tahun 1974 jadi pengangguran. Tahun 1975 aku mendaftar ke SMAN Kendal dan alhamdulillah lolos. Nah, saat pengumuman penerimaan, aku ketemu seorang teman TK waktu di kampung, yaitu mbak Ita. Aneh juga kok bisa jadi satu sekolahan lagi di SMAN Kendal.

Selama Di SMA aku menjalani kegiatan dengan wajar-wajar saja, maklum aku dari gunung. Aku lebih banyak diam, tapi bagaimanapun namanya di SMA tentu ada kenangan yang bisa bikin senyam-senyum sendiri. Sewaktu masih kelas 1 kami menempati gedung sekolah di Jalan Pemuda. Lantai kelas belum diplester (dipasang ubin), lantai kelas masih batu koral, gedene sak kepel-kepel. Jika tidak salah saat sedang pelajaran Seni Musik yang mengajar Bp Mahyudi, entah kenapa suasana kelas ramai, tak terkendali Pak Mahyudi ambil batu di lantai sambil bilang. “Nek ora isa meneng tak bandem watu lho...”. He he he... Bisa dibayangkan jika terjadi sungguhan bisa perang batu.

Saat kelas 2 aku sudah lupa di IPA berapa, pernah suatu saat ulangan Kimia dan hampir satu kelas ulangan dapat nilai 2. Subhanallah, yang berkesan dan membekas di hatiku beliau guru Kimia Bp. Djoko tidak marah. Itu masa SMA berjalan biasa saja, tak ada yang istimewa, apalagi ceblok demen (jatuh cinta) belum muncul.

Selepas SMA saya mencoba ikut Sipenmaru (seleksi masuk perguruan tinggi) tapi gagal. Di sini saya sudah mulai bingung mau kemana dan lagi-lagi satu tahun terbuang alias nganggur. Tahun 1980 alhamdulillah diterima bekerja di sebuah proyek pemerintah yang menangani industri kecil di Tegal. Di sini aku menjalani mulai dari karyawan rendahan, setapak demi setapak karirku mulai meningkat. Akan tetapi di sisi lain aku merasa ada yang kurang yaitu pendidikanku dan suasana di kantor waktu itu sudah tidak sesuai dengan hati nuraniku, maka aku mengundurkan diri pada tahun 1984. Sebuah keputusan yang berani (kata teman-teman waktu itu). Masih di tahun yang sama aku meneruskan jenjang pendidikan, lagi-lagi kandas hanya sampai ke semester 6 sudah kehabisan napas alias tak ada biaya.

Ada ungkapan “the power of kepepet”. Pada saat terdesak muncullah keberanian. Setiap peristiwa ada hikmahnya dan hikmah itu biasanya baru diketahui oleh yang bersangkutan setelah terjadi. Tahun 1987 aku melihat beberapa teman sudah mulai menapaki jenjang karir, sementara aku pulang kampung sudah 3 tahun belum bisa berbuat apa-apa. Hati mulai bergejolak, gelisah, minder, namun aku tetap mencoba menggali potensi yang ada dalam diriku, serta belajar dengan membaca apa saja untuk memunculkan ide-ide. Ternyata untuk berusaha tidak semudah yang aku bayangkan, dibutuhkan kesiapan mental, kesabaran dan ketekunan.

Dari situasi kepepet tadi, pada tahun 1987 aku memutuskan untuk memulai usaha memelihara burung puyuh dengan modal 2 mesin tetas bikinan sendiri. Setelah berjalan dua tahun, alhamdulillah mulai tampak hasilnya. Dari sini aku mulai percaya diri dan makin semangat.

Tahun 1990 aku mulai berpikir jika tetap piara burung puyuh pasti tidak akan maju-maju. Nah pada tahun itu juga aku memberanikan diri hutang ke bank yaitu BRI  sebesar Rp 4 juta, untuk tujuan piara ayam. Rupanya nasib belum berpihak dan aku masih diuji lagi. Dari ayam yang saya pelihara sebanyak 1.000 ekor (dibelli dari modal pinjaman bank) ternyata terserang penyakit dan mati sebanyak 800 ekor. Pengalaman ini menjadi beban stress pertama saat saya hendak menjadi pengusaha (jika boleh desebut begitu). Setiap bulan saya harus mengangsur pinjaman bank, sementara di sisi lain pendapatan tidak ada.

Ternyata dari sinilah Allah membukakan pintu jalan keluar. Karena kepepet dan aku dikejar tanggung jawab maka aku harus bergerak, apalagi jika tidak berjualan ayam. Pada saat memulai ya tentu saja bingung karena modal sudah habis. Apa boleh buat, harta yang di rumah adanya sepeda maka dengan sepeda aku jualan ayam. Nah dari jualan ayam ini alhamdulillah aku bisa melunasi pinjaman BRI.

Seiring dengan berjalannya waktu, usaha semakin terlihat ada hasilnya. Namun lagi-lagi yang namanya usaha tidak selamanya berjalan mulus. Selalu ada saja hambatan. Pas waktu itu jualan ayamku sudah lumayan, sehari saya bisa menghabiskan menjual 100 ekor ayam. Ketika saat hari itu mau mengambil (kulakan) ayam di langgananku, ternyata aku tidak diberi ayam. Alasannya pemilik ayam katanya “ayam belum berumur”. Bisa dibayangkan saat butuh barang untuk jualan, ternyata barang ada tapi ditolak. Rasanya mangkel banget alias dongkol.

Dari peristiwa itu mulailah timbul pemikiran bahwa aku harus produksi ayam sendiri. Semalaman (waktu itu tahun 1992), aku berpikir keras bagaimana caranya untuk memproduksi ayam sendiri. Eh, lagi enak-anaknya bingung mikir usaha, tiba-tiba ada tamu yang menawarkan kandang untuk diisi dengan perjanjian bagi hasil. Akhirnya tawaran kuterima dan kandang kuisi ayam 500 ekor. Berawal dari sini, Allah menunjukkan jalan setapak demi setapak. Mitra usahaku mulai bertambah. Tiga tahun kemudian ayamku telah berkembang menjadi 25 ribu ekor tersebar di 14 lokasi kandang. Subhanallah, dengan kapasitas produksi sebanyak itu tentu melibatkan banyak orang, dari dokter hewan, tenaga karyawan dan yang menyenangkan adalah usaha itu bisa menghidupi dan bermanfaat bagi banyak orang termasuk keluarga tentunya.

Tahun 1997 terjadi krisis moneter di seluruh dunia, tentunya usahaku pun terkena imbasnya. Untuk yang ini tidak usah diceriterakan karena semua orang yang bergerak di bidang usaha pasti terkena. Alhamdulillah setelah terkena krisis ekonomi, tiga tahun kemudian aku bangkit lagi sampai sekarang dan yang lebih membuat aku banyak bersyukur adalah aku bisa menyekolahkan anak-anakku. Aku bisa menghidupi karyawanku walaupun usahaku tidak besar, tapi Allah memberi kecukupan yang luar biasa. Aku menangani pekerjaanku saat ini hanya sekitar 25% waktuku, selebihnya aku serahkan kepada orang yang kupercaya, sehingga aku bisa menginfakkan tenaga dan pikiranku di berbagai kegiatan sosial, termasuk ikut nimbrung kumpul-kumpul di IKA’79 SMANSA. Subahanallah walhamdulillah wala ilaha ilallah Alluhu Akbar

Filosofi hidupku sederhana saja, aku selalu berdoa agar hidup ini bermanfaat bagi orang lain dan Allah meridhoi apa yang aku lakukan. Aku selalu punya mimpi dan berharap IKA’79 ke depan  akan tetap menjadi ajang tali silaturrohim yang positif, sebagai wadah alumni dan tempat berkumpul dan bersosialisasi sambil mengenang masa lalu. Tempat ketawa lepas tanpa batas sosial, juga bertukar informasi sehingga memudahkan bagi sesama alumni untuk berbuat sesuatu kepada sesama alumni lainnya yang mungkin membutuhkan. – (Djumarno bin Sukedji)

Terakhir Diperbaharui pada Rabu, 28 September 2016 07:58